
Yusran Hadi lahir di Tebaban, Lombok Timur 3 Maret 1981. Alumni FKIP Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Mataram. Menulis puisi dan naskah lakon yang beberapa di antaranya termuat dalam bunga rampai Panggung Zaman (Taman Budaya NTB, 2008) dan Simpang Lima (2009). Sehari-hari bekerja sebagai pengajar di SMAN 1 Pemenang dan aktif di Komunitas Tepi Kali, Lombok Utara
Sesekali
Sesekali
sesekali, coba kau katakan
kemanakah cabang dan ranting-ranting ini mengantar kuncup dedaunan
apakah pada kehijauan yang halal bagi angin
ataukah jua padamu semuanya berpulang
sesekali, jangan diam
sebab kebisuan adalah kata-kata melarva
yang suatu saat siap menghisap aku
melepuhkanku dalam panasbaramu
semua telah berlalu, katamu
siapa yang sanggup mengembalikan bandul waktu, kataku
negara ini memang sudah kacau, kau tahu itu
alam tak jelas lagi musimnya, kau juga tahu
tapi sesekali jangan diam melulu
pintaku, sapa aku dengan kehijauan yang dulu
walau mungkin kini dedaunan itu telah kuning kering
mewarna hara
Pengasingan, 20 November 2010
Aku Masih Mencarimu
aku masih mencarimu
di tumpukan buku buku dimana namamu pernah kau catatkan
di kursi-kursi kosong perpustakaan dan rak-rak yang berbau kamper
aku masih mencarimu
di malam-malam panjang di dalam kendara para pemimpi
di galeri-galeri dimana segala pajangan
menyaksikan kita pernah bergandengan tangan
aku masih mencarimu
karena masih saja kurasakan
jari-jarimu yang kurus
tak henti membenahi urat hidupku
aku masih mencarimu
walau sesungguhnya kutahu kau ada dimana
28 Desember 2010
Tentang Waktu
Mengapa tak kau samakan jarum waktu di jammu
Hingga tik tok detik detik milikku dan milikmu tak lagi berseteru
Lama aku menunggumu di angka itu
Namun jarummu tak jua sampai
Detikku kah itu yang menerabas begitu tangkas
Hingga detakmu terasa tertelan pelan
Tapi nyatanya aku telah begitu lama menunggu
menangguk temu atas jarummu
gemetar jarumku sendiri mengekang diri
Rasa rasanya aku tak pernah lalai menghitung gerakmu
Apakah mungkin ada suatu keajaiban
yang membuat kau berlalu
dan terabaikan
Jadi beginilah kita
Tak jelas engkau kah leher atau aku kah kepala
12 Agustus 2010
Tentang Kebebasan Seekor Burung yang Membuat Malu Tuannya
selepas manakah dari waktu
telah membawa paruhmu berlari
sebagai burung, kau nyaris tak mengenal angin
sebab sayapmu tanpa tetumbuhan bulu-bulu
di keluasan macam apakah dari alam raya
mampu bercerita padamu
tentang hangatnya sarang dan musim kawin
padahal hampir pasti
sangkarmu sepi tak bercelah, tak berbirahi
aku termangu-mangu
mengenangkan paruh-paruh bodohmu
kini tak henti mematuk-matuki kepalaku yang tolol
sementara jari-jariku yang kelewat malu
tak henti bertanya
di manakah akan disembunyikan
patahan-patahan jeruji ini
yang dulu begitu liat membuimu
Tanjung, 28 Januari 2010
Tidak ada komentar:
Posting Komentar